Sudahkah Pemerintah Menangani Permasalahan Kekeringan Di Daerah Pegunungan ?
Pendahuluan
Ketigo Wulan Dowo, begitulah istilah masyarakat petani jawa dalam menyatakankeadaan musim kemarau yang mengakibatkan kekurangan air berkepanjangan seiring berjalannya waktu dan terjadi perubahan iklim global,dana adanyapeningkatan degradasi lingkungan, dan bertambahnya jumlah penduduk,dan semakin terbatasnya ketersediaan air. Konflik perebutan penggunaan air makinm meningkatdi masa mendatang. Air memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan baik manusia, hewan dan tumbuhan. Tumbuhan membutuhkan air untuk kelangsunganhidupnya. Kekeringan biasanya terjadi di pegunungan terutama pada sektor pertanian.
Isi
Pada musim kemarau banyak lahan pertanian yang kekurangan air khususnyad didaerahpegunungan. Pegunungan merupakan wilayah dengan dataran tinggi yange permukaannyatidak rata yang dimana jika air berasal dari daerah yang lebih rendah maka air tidak dapat tersalurkan dengan baik kedaerah dataran tinggi karena permukannyaberbeda, pegunungan memiliki efektifitas lahan yang lebih baike tetapijika kekurangan air maka akan menimbulkan masalah besar salah satunya yaitu gagal panen, peran air sangatlah penting bagi tumbuh kembang tanamana karena air merupakan kebutuhan terbesar tanaman untuk hidup, Menjelang 5 tahune kedepan yakni tahun 2025, ada sekitar2,7 milyar penduduk atau sekitar sepertiga penduduk populasi yang ada dunia akan menghadapi krisis air pada tingkat yang lumayan parah (Dinar, 1998).
Permasalahan kekeringan sebagian besar terjadi di Pulau Jawa-Madura karena dipulau tersebut memiliki bahaya dan kerentanan yang tinggi dibandingkan dengan pulau-pulaulainnya. Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk dan pusat pemerintahan Indonesia mengalami pembangunan yang pesat diberbagai sektor sehingga tuntutan masyarakat petani khususnya yang berada di daerah pegununganakan penggunaan air juga terus berkembang. Persaingan dalam penggunaan air terjadi antarsektor, seperti domestik, perkotaan, industri dan irigasi pertanian di berbagai wilayah administrasi maupun wilayah sungai. Pulau Jawa memiliki tingkat resiko bencana kekeringan yang paling besar dibandingkan dengan pulau lainnya di Indonesia. Resiko bencana merupakan fungsi dari berbagaikarakteristik dan frekuensi kejadian bahaya (hazard) yang terjadi di suatu wilayah tertentu,tingkat kerentanan (vulnerability), dan ketahanan (resilient) atau kapasitas(capacity) dari sebuah sistem, komunitas dan masyarakat (Pribadi dan Sengara, 2010).
Pembahasan
Permasalahan kekeringan di Indonesia, biasanya terjadi di derah pegunungan. Permasalahan tersebut dikarenakan air yang ada dipegunungan tidak tersimpane dengan baik seperti ketika hujan, pada musim hujan terjadi banjir pada dataran rendah karena air hujan khususnya di daerah pegunungan mengalir ke daerah dataran rendah dan menyebabkan luapan banjir hal ini bisa menyebabkan kerusakan pada dataran rendah, karena pada saat musim hujan, air tidak di kelola dengan baik Surplus air hanya terjadi pada musim hujan dengan rentang waktu sekitar 5 bulan sedangkan pada musim kemarau terjadi defisit untuk selama 7 bulan. (KLH, 1997; Pawitan et al., 1996; Nugroho, 2008).
Para petani di daerah pegunungan biasanya bercocok tanam dimusim hujan saja, hal itu karena mereka kesulitan dalam mendapatkan air terutama pada saat bercocok tanam pada musim kemarau, mereka harus menyalurkan air dari pemukiman warga setempat dengan jarak yang lumayan jauh, dengan membutuhkan waktu dan tenaga yang besar membuat tanaman tersebut kekurangan nutrisi yang seharusnya di dapat secepat mungkin karena proses tumbuh kembang tanaman dipengaruhi oleh asupan atau makanan yang tercukupi, dampak terbesar yang ditimbulkan dari hal tersebut ialah gagal panen, kerusakan fisik tanaman, kualitas tanaman yang menurun dan lahan yang gersang.
Pemerintah mempunyai peran yang sangat penting dalam menangani permasalahan kekeringan. Pemerintah sebagai aktor dan mempunyai wewenang untuk mengatur jalannya perwujudan solusi serta perannya dalam pengambil keputusan. Pemerintah sudah mencoba menangani masalah kekeringan itu dengan membangun Embung (waduk atau bendungan air yang berukuran mikro), Embung merupakan salah satu teknik pemanenan air (water harvesting) (Kementerian Pertanian, 2007).
Namun hal itu belum sebaik yang diharapkan karena letak waduk yang jauh dari lahan pertanian dan daerah dataran yang tidak rata membuat saluran air tidak bekerja secara maksimal. Oleh karena itu pemerintah dan masyarakat harus saling berkontribusi dalam memecahkan permasalahan kekeringan di daerah pegunungan.
Kesimpulan
Permasalahan kekeringan di Indonesia kebanyakan terjadi di pegunungan. Permasalahan tersebut dikarenakan musim kemarau yang berkepanjangan dan air yang ada dipegunungan tidak tersimpan dengan baik, serta sumber air di pegunungan yang lebih sedikit karena sebagian besar permukaannya berupa batu. Salah satu solusi yanng bisa di lakukan ialah membangun tandon bawah tanah, tandon bawah tanah berfungsi untuk menyimpan air pada saat air melimpah dan digunakan pada saat kekeringan dengan cara menghemat semaksimal mungkin. Tandon tersebut bisa di bangun di setiap petak lahan karena beratnya yang relatif ringan untuk di tanam didalam tanah, dan berada di dalam petak lahan. Dengan tempat berada di dalam lahan, para petani dapat lebih mudah dalam mendistribusikan air untuk kebutuhannya. Terutama kebutuhan pertanian nya.
Uwawww ✨✨✨
ReplyDeleteTerimakasih kak
ReplyDelete